” Ode Buat Sang Pencinta “

Dalam gegap gempita syair pujangga

Kau melahirkan ribuan larik larik

memuja aku ..

Bagai hempasan ombak yang maha dahsyat

Berkejaran sambung menyambung

menyerangku ..

Melayang dan tak menapak bumi

Kuterbuaikan dalam haru

Kau seumpama mata pena yang lincah

Bermain aksara dan kata

Menghias cinta itu

Dalam barisan syair

Tak salah bila Ode ini

Kuserahkan

Sebagai balasan untaian Cinta itu

Yang telah

Menautkan kita…

( Sawah Besar Agustus 2008 )

” Pisau itu “

Pisau itu berlumur darah

merah segar

Yang sudah mengoyak dinding perut

Seorang perusak hati

Impas dari sebuah dendam

yang tersimpan lama

dan

berdiam kaku di aliran vena

Tak habis habis darah mengucur

Melekat di mata pisau

Yang menusuk tajam

Perih yang terbalas

lunas sudah kini

Menghabisi jiwa yang angkuh

dan kaku menjajah

Terbayarkan dengan sebilah pisau

dan bermandikan darah

**penjarahati2008**

” Learning Photoshop “

” Aku dan Bayanganku “

Aku dan bayanganku

Bak kutub utara dan selatan

Bersebelahan dan berseberangan

Polah ke timur dan tingkah ke barat

Berlawanan tak pernah Satu

Melangkah sendiri sendiri

Bayanganku selalu menghilang kala aku mau

Dan ,

Dia menghampiri saat aku tak hendak

Tak seharusnya seperti itu

Sejatinya aku dan bayanganku selalu bersama

Dimana aku disitulah ada dia

Dimana dia berbayang harusnya aku ada disitu

Karena aku yang menciptakan bayangan itu

Bukan dia yang membawa aku

Seharusnya seperti itu ..

Sudah hukum alam dan pasti

Tidak memisahkan diri antara badan dan bayangan

Yang terjadi,

Aku egois

Dan bayanganku angkuh

Perpaduan serasi

Yang melengkapi ketidak biasaan ini

Bila yang lain bagai kembar siam dengan bayangannya

Bak pinang dibelah dua

Maka aku berbeda

Aku dan bayanganku tak berjodoh

Sungguh lucu …

Bekasi , Mei 2008

” Dewi “

Dewiku ..

Tarian malammu membuatku resah

Tak sanggup aku menahan hasrat

Untuk segera memerangkapmu dalam jaring yang kurajut

Mengikatmu erat dalam buaian kelaki-lakianku

Dan menyempurnakannya pada satu bagian terindah

Dewiku, kemarilah..

Menarilah untukku

Di ujung-ujung nada kunantikan gerakmu

Yang mengunci aku dalam sebuah pasrah

Dewiku, penuhilah..

Kosong yang membuatku penat menunggumu

Letih aku bersendirian merajut jaring

Tiada berkawan

Hanya galau dan kegundahan di sini

Inginku bersamamu menari

Menarikan sebuah cerita

Berperan bersama menggiring asmara

Mengakhirinya dalam cawan emas

Dewiku, lihatlah ..

Kesanggupanku untuk selalu bersamamu

Tarian malammu membuatku hilang bentuk

Hanya mampu memagarinya dengan satu asa

Kau akan datang menghampiri

Dan menyelimuti aku dengan sutra putihmu

Pangkalan Bun, Januari 2008

” Aarrgghh “

Aaaarrrghhh.. !!

Kemarahanku sudah mencapai grafik tertinggi

Dalam skala yang rapat

Jebol pertahananku menjaga benteng emosi

Tak tertahankan luapannya !

Kuluncurkan peluru amarah dengan rentetan yang tak berjarak

Tepat disasaran hatimu

Engkau diam tak menangkisnya

Dengan tameng yang biasa kau gunakan

Untuk menyerangku bertubi-tubi

Aku muak !!!

Tertekan dengan otoritermu

Dengan kediktatoranmu

Dengan Tangan besimu

Yang setiap saat menghimpit aku

Dan membuatku meringkuk takut

Tapi,

Aku sudah tak bisa menelannya

Aku sudah tak mampu mencegahnya

Murkalah aku kini

Kukibarkan bendera perang untukmu

Mengisi amunisi dalam senjata emosiku

Yang sekian lama kusimpan di balik

Sosok tenangku ini

Di puncak ke”aku”anmu

Aku berontak dan menjadi pembangkang

Yang tak pernah kau duga

Aku keluar dari kekangan itu

Aku menembus dinding kekejamanmu

Pada Arogansimu !!!

Yah !!!

Inilah aku dengan kemarahanku

Yang sudah berurat darah

Dan berkarat lekat

Kutujukan pada engkau yang selalu

Bermandi kekejaman kata padaku

Bersiaplah engkau menerima kematian kecil

Dariku..

Aku kan menumpas darah dinginmu

Yang selama ini menghantuiku !!!

Dan aku lega kali ini

Kau tak mampu menahan aku

Yang akan menjadi pembunuh hatimu

Bekasi : Juni 2008

” Ke Baitullah Aku Malam itu “

Bermimpi aku di penghujung malam

Bertandang ke Baitullah dalam sekejap

Ber’thawaf 7 x di Masjidil Haram

Menyentuh Kiswah dengan keharuan yang tak terperi

Memuja mujaNya dengan lafadz yang tertinggi

“ Ya Rabbi yang Maha Agung “

Kudatang ke rumahMu

“ Labbaik allahumma labbaik “

Memohon izinMu dan berharap

Ridho dan Qadar ..

Walau dalam mimpi yang tak kusadari kepergianku

Tak ku sangka-sangka

Menyentuh milikMu yang terhampar di hadapanku

Menyatukan diriku dalam Jannati yang awal di serambiMu

Merasakan kecilnya diriku di padang ArofahMu

Kuberucap syukur yang tak terhingga

Berupaya menyempurnakan Aqidahku

Yang tak jarang dipenuhi khilaf

Dan melalaikannya..

Mohon ampun kumeminta keikhlasanMu

Maafkan selaksa dosa yang kusimpan

Berwaktu-waktu..

Kau sadarkan aku dengan perjalanan yang tak mungkin

kulalui hanya dengan melelapkan mata

di kegelapan malam

Aku mengerti akan rahasiaMu

Yang menyapa dan mengajakku berhijrah

Dalam mimpi yang sarat teguranMu

Kau ingin aku bersuci dari nikmat dunia

Yang menggelapkan mata hati

Hingga hisab kelak datang menimbang

Dalam akhir perjalananku

“ Ya Rabbi Yang Maha Sempurna “

Perkenankan aku tak terbangun

Melengkapi hayatku dalam kesempurnaanMu

Perkenankan aku berlama-lama

Ber’mujawahah dengan semua yang ada di serambiMu

Ya Allah Izinkan aku..

Tetap terlelap

Dan tak terjaga tuk menyudahinya

Kuingin mimpi yang kau beri

Nyata dalam tidurku

Tuk bermunajat padaMu

“ Ya Rabbi Yang Maha Mengabulkan “

15 Rajab 1428 H

” Tarian Malam “

Lampu sorot itu menerangiku

Di tengah panggung yang temaram.. menyoroti diriku penuh..

Di panggung ini ku menari, menggeliat, meliuk lepas..

Sejajarkan gerak dan irama yang kian lama kian menghanyutkanku

Dalam tatapan riuh penonton..

Kulepaskan semua beban

Kuhempaskan semua duka

Dalam gerak yang menggoda

Ku tak peduli apa yang bermain dalam pikiran mereka

Nafsukah ?

Seni kah ini ?

Kontemporer, geliat malam, luapan emosi..

Biarlah..

Menari aku di sini..

Di panggung temaram..

Berkeringat deras mengucur..

Hingga aku kembali ke balik layar

Dan panggung ini kembali sepi..

**On Stage April 2008**

” Bolehkah Aku Meminta ? “

Tuhanku..

Bolehkan aku meminta ?

Air kesejukan membasuhku

Dan membasahi kerongkonganku yang tercekik haus

Aku jauh dari mata air’Mu

Aku tinggalkan sumur pemberian’Mu

Dan mengejar kolam yang

Baru kusadari itu hanya tipuan mata

Tuhanku…

Bolehkah aku meminta ?

Angin sejuk menerpaku

Dan menyegarkan kulitku yang bersisik kering

Aku jauh dari angin surga’Mu

Aku tinggalkan kincir angin ciptaan’Mu

Dan mengikuti sepoi yang

Akhirnya ku mengerti itu adalah jeratan hayati

Masihkah terbuka untuk’ku ?

Kesempatan itu ..

Puja’ku Untuk’mu

Bersandar aku pada lembutnya angin

Yang menerbangkanku perlahan

Menyusuri danau biru cintamu

Bak pualam aku melukiskan engkau

Bagai mawar merah jambu ku ibaratkan wujudmu

Terlalu tinggikah ku bersanjung ?

Walau tiada merugi bagiku memuja engkau

Karena padamu ku bergantung cinta

Karena padamu ku menyulam hati

Mimpi aku bertangkup tangan di dadamu

Begitupun engkau tertidur di bahu

Yang bertuang peluh

Tak salah bila aku menggaris langit

Dengan pelangi

Menghamparkannya untuk kau lewati

Turun ke bumi membawa cinta ini

Untukku ..

« Entri lama